Secarik surat dalam botol
Pagi ini amat dingin. Tak seperti kemarin. Memang kemarin malam kota ini diguyur hujan deras yang baru reda sekitar sepertiga malam terakhir tadi. Setelah mandi, aku tak lupa mempersiapkan segala peralatan sekolah dan makan .
Sarapan tak pernah kulupakan. Yaach meskipun hanya dengan lauk tempe dan kecap manis, tapi bagiku itu cukup untuk memberikan energy selama 8 jam di sekolah. Di ruang keluarga yang berukuran 4 x 4 meter ini aku dan keenam saudaraku beserta korang tuaku banyak menghabiskan waktu bersama. Nonton tv, makan, berkumpul, bahkan kadang kami terlelap disana.
Hhhhmmb, telah kenyang perutku sekarang. Aku sekarang tinggal make sepatu dan berangkat ke sekolah. Eeeiiittss. . tak lupa tentunya dengan uang saku. Hhehe . . meskipun tak terlalu banyak, setidaknya buat jaga – jagalah kalau dibutuhkan. Tapi dimana ibuku? Kucari di dapur, kamar, tapi tak ku rasakan adanya beliau.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.05, ya sudalah kuminta uang pada kakakku saja. Kuhampiri dia di kamarnya, kulihat dia hanya sedang merebahkan tubuhnya di ranjang yang tak terlalu besar, tapi cukup nyamanlah untuk ditiduri hanya seorang diri. “appa?” Tanya kakakku . “uang..”kataku sambil tersenyum manja. “hhhmmbb, ini berikan pada zaa ma irra ma euiss.” Sambil memberikan uang 50.000 untukku. “waahhh, thank you bro ..hhehe.” ucapku sambil berlalu membawa uang itu. Zaa itu kakak perempuanku. Dia sekarang kelas satu SMA. Dia pinter banget, sekolahnya pun di sekolah unggulan di kota malang. Dia pendiam, simple, sederhana, dan nggak neko – neko ( banyak tingkah ).
Setelah kuberikan uang kepada zaa, aku segera berangkat ke sekolah. Aku berangkat diantar kakak laki – lakiku yang lain. Namanya Maul. Tapi, tak lupa aku memberikan titipan uang yang telah diberi maz lukman kepada irra ma euuis. Rumah mereka kebetulan tak terlalu jauh dari rumahku. Bahkan satu dinding. Tinggal lompat pagar, aku telah berada dikawasan rumah mereka. Langsung saja aku masuk tanpa perlu mengetuk pintu, kebetulan pintunya juga terbuka lebar. Ku langkahkan kakiku menuju dapur. Karena kulihat tiada siapapun di ruang tamu. “bulek, irra mana?” Tanya ku pada bulekku yang ternyata sedang menyiapkan sarapan di dapur yang juga sekaligus jadi ruang makan ini. “di kamar, masih tidur mungkin.” Ucap bulekku sambil menuang the ke cangkir. Tanpa megucap sepatah katapun aku langsung berlalu menuju kamar irra. Ternyata dia tak disini. Ku intip pintu disebelah kamar, disini tempat tidur orang tua irra. Tapi kulirik ternyata ada sesosok gadis belia yang tampak baru terbangun dari mimpinya.
“hei. . baru bangun ternyata, ini aku berikan uang dari maz lukman, bagi dengan euiss yach.” Kataku sambl mengulurkan uang kepadanya yang tampak lemah. “masih sakit yach kamu?” tanyaku sambil menatapnya. “he.em .” ucapnya singkat tanpa banyak kata. Rambutnya tampak basah oleh keringat, dia tampak kurus, apalagi rambutnya panjang. Wajahnya tampak sangat pucat, tak ada sedikitpun semangat yang tampak di dirinya. Tersenyumpun lemah. Di kamar yang dindingnya sudah tampak sedikit lembap inilah hampir satu bulan terakhir dia menghabiskan waktunya dengan tidur.
Dia memang sedang sakit. Tak pernah jelas aku tentang sakitnya apa. Dia sendiri juga sangat keras kepala. Jarang sekali mau di ajak ke dokter. Banyak sekali alasan yang ia utarakan agar ia tak pergi ke dokter. Tapi, sabtu kemarin dia baru saja check up ke dokter langganan keluarga besar kami. Tapi, hasilnya pun masih nihil. Bahkan sekarang lebih parah karena ditambah dengan keadaanya yang tak pernah mau makan. Bahkan sering kali ditemukan obat – obatan yang terbuang di kolong kasurnya. “iya sudah cepat sembuh, aku ke sekolah dulu iya.” Ucapku sambil segera beranjak untuk berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah aku masih teringat keadaannya hari ini yang tampak sangat memprihatinkan. Ulanganku pun agak tak konsen. Tapi, aku masih beraktifitas normal seperti biasa. Setelah ulangan, aku olahraga dan seusai itu aku praktek biologi. Hari ini terasa singkat. Setelah praktekku selesai tak terasa sudah waktunya pulang. Hemb, akhirnya pulang juga, cukup lelah aku merasakan hari ini.
Pulang sekolah aku langsung ganti baju dan mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur. Tak lupa makan siang tentunya. Setelah kenyang aku ingin ke rumah irra. Ceklekkk. Suara pintu tua ini mengisi rumah yang terlihat sangat sepi.
“Nyari irra?”tiba – tiba suara dari dalam membuatku tersentak diriku yang sedang berdiri di pinggir pintu. “iya.” Jawabku. “tidur dia.” Ucap bulekku yang ternyata sedang menyulam di depan kamarnya. “Iya sudah, aku pulang saja bulek.” Kataku. Beberapa bulan ini aku sudah tak lagi bermain dengannnya. Aku jadi sering bermain dengan adek sepupuku yang lain. Sakitnya irra memang membuatku tak lagi semangat bermain. Biasanya dialah yang menciptakan permainan. Tapi karena sudah hamper dua bulan ini dia sakit, jadi yach mau apa lagi. Apalagi satu bulan terakhir ini dia malah hanya lebih sering tidur di kamar. Bahkan dia tak ikut ujian akhir semester ganjil.
Aku merasa hari ini sangat tidak seperti hari – hari biasanya. Terasa aneh, ada sesuatu yang sangat mengganjal dalam sudut hati dan pikiranku. Tak tahu apa.
Siang ini kulewati dengan rasa yang tidak mengenakkan. Sorepun tiba. Aku ambil handuk dan segera bergegas pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sehabis mandi aku segera ambil air wudlu untuk sholat. Setelah semua ritual sore hariku selesai, aku beranjak pergi ke ruang keluarga, menonton tv. Biasanya aku menonton film korea bersama irra. Tapi, yach dengan alasan kesehatannya tadi, aku sekarang hanya bersama kakakku. Memang sudah menjadi aktivitas rutin kami sebenarnya kalau siang sampai sore hari kami selalu menghabiskan waktu untuk berman dan nonton tv. Tak jarang orang tua kami sebel sendiri melihat tingkah kami. Tapi,orang tua kami tetap senang karena sebagai keluarga kami saling menyayangi dan akur.
Hari ini hari kamis. Sehabis sholat maghrib aku mengaji surat yasin. Karena kata ustadzku, mengaji yasin di malam jum’at akan dapat banyak barokah. Alhamdulillah aku dilahirkan di dalam keluarga yang sangat islami. Memang cukup sulit sebenarnya, tapi kalau kita sudah terbiasa dengan seua tatana agama kita, sungguh sangat menyenangkan hidup di dalamnya. Setelah aku mengaji, aku harus mengerjakan semua tugas sekolah. Kebetulan letak meja belajarku ada di ruang keluarga, maka aku belajar disana.
Saat aku beranjak dari kamar, bulekku memanggil ibuku dari depan rumah. “yu( panggilan kepada kakak dalam bahas jawa ) , irra mau tak bawa ke rumah sakit.”ucapnya dari pintu rumahku. Aku tersentak. Ada apa. Apa kondisinya tambah parah iya. Pikirku dalam hati. Aku segera ke rumahnya. Dia ada di kamarnya sendiri. Aku melihatnya duduk lemah di atas kasur yang kecil. Dia yang tampak lemah dengan piama biru dan jaket orangenya, hanya berselimutkan sarung. Dia terkihat sangat pucat, tak ada ekspresi diwajahnya. Tatapannya kosong. Tak kulihat semangat dalam dirinya.
Dia hanya duduk diam, sementara seluruh keluarga kami membujuknya agar mau dibawa ke rumah sakit. Tapi dia hanya diam sambil menyandarkan dirinya pada dinding yang lembap. Di kamar yang hanya berukuran 2x2 meter ini dia seolah ingin mengucapkan sesuatu dari bibir manisnya. Tapi seolah dia tak kuasa untuk mengucapkannya. Sebetulnya bukan hanya sekali ini dia mesti dibujuk susah payah untk mau berobat, sebelumnya sudah sering. Tapi, setiap kali dibujuk, jawabannya malah ngelantur dan mengucapkan kata – kata seolah pasrah menghadapi kesakitannya. Dia merasa bahwa hidupnya tak akan lama. Seringkali ia ucapkan itu. Kata – kata itu sugguh mengganggu otakku.
Aku tak kuasa membyangkan jika memang benar aku harus kehilanganya. Aku menyayanginya. Kutatap wajahnya, ku lihat matanya. Dia tak merasa. Setelah kurang lebih setengah jam merayunya, akhirnya dia pasrah dan mau dibawa ke rumah sakit. “gendong. .” ucapnya sambil mngulurkan tangannya yang sangat kurus ke ayahnya. Ayahnya denga senag hati menggendong irra. Dia minta di gendong di punggung ayahnya. Tubuhnya terlalu lemah. Saat dia digendong ayahnya, aku hanya melihatnya. Tak tega rasanya. Aku merasakan firasat yang sangat tidak enak.
Dia menatapku sambil tersenyum tipis, lemah. Aku membalasnya dengan tersenyum. Semoga bisa jadi sebuah semangat untukknya. Kini dia sudah berangkat. Aku kembali ke kamarku. Kudekap bantalku. Buku – buku kubiarkan berserakan di kasur. Aku tak jadi belajar. Aku hanya mampu menatap dinding – dinding kamarku yang catnya mulai memudar. Aku berdoa semoga irra mendapatkan sesuatu yang terbaik. Entah kesembuhan yang kudambakan, atau kematian yang selama ini selalu ia ucapkan. Aku hanya mampu pasrah. Aku hanya inginkan dia bahagia dengan apapun itu keadaannya. Karena irra memang tak pernah mengeluh dengan semua keadaanya. Semua yang ada pada dirinya, ia terima dengan ikhlas. Bahakan dalam kondisi sakit yang berkepanjangan ini. Dalam kondisi sakitpun dia sngat pasrah. Dia tak mau merepotkan semua orang.
Pernah suatu hari saat dia akan dibujuk ke rumah sakit dia malah berkata seperti ini “biarin aku di rumah. Tak perlu ke rumah sakit. Kasihan bapak kalau tahu nanti aku mati.” Sungguh ucapan yang semakin membuat sel – sel otakku lemah bila mengingatnya. Ya Allah, berikan yang terbaik untukknya. Aku menyayanginya. Selamanya. Kudekap bantalku hinggaku terlelap tidur.
Fajar subuh datang. Aku segera mandi dan sholat. Kebetulan pada hari jum’at ngaji subuhku libur. Setelah sholat, aku segera mempersiapkan segala keperluan sekolahku yang kemarin tak sempat kupersiapkan. Aku yang berada di kamar, mendengar teriakan dari depan. Seperti suara dari sulton, kakak irra. “bude. . irra nggak ada.” Aku tersentak. Ya Allah benarkah ini semua. Aku harap ini masih dalam mimpiku. Kutengok depan rumahku yang terlihat ramai saudara – saudaraku. Tuhan, semua ucapan irra benar. Hidupnya tak panjang.
Aku lemas. Ku dudukkan tubuhku di atas kasur. Aku tak berdaya. Aku tak percaya. Seluruh tulang dalam tubuhku seolah lepas dari daging – daging. Aku terdiam terpaku menghadapi sambutan pagi ini yang sangat menyiksa. Kenapa ini cepat sekali. Kita belum pergi tamasya keluarga bareng tahun ini. Engkau juga belum melihat dan berjalan – jalan ke pasar baru belakang rumah kita. Kenapa sudah kau tinggalakan aku. Aku sekarang harus bermain bersama siapa. Kau yang selama ini jadi inspirasiku. Kau yang sering mengingatkanku melebihi kakakku. Kau selalu mendukungku. Begitu tersiksa aku harus melepas kepergianmu.
Ya Allah inikah yang memang terbaik untukknya. Kematiankah. Kalau memang iya, aku coba tuk ikhlas. Tapi, aku masih belum sanggup. Terlalu muda untukknya. Tapi memang kematian tak pandang usia. Dia pasti meninggal dengan tenang. Disaat hari jum’at, bahkan dia belum dating bulan. Semoga engkau bahagia disana irr. Aku selalu mendoakanmu dari sini. Kudekap boneka, dan aku tak akan berangkat sekolah untuk hari terburuk ini.
Ya Allah genap 6 tahun kepergiannya pada tahun ini. Aku hanya mampu mengenang dan mengamalkan segala kebaika yang pernah ia ajarka padaku. Aku hanya menatap fotonya untuk mengobati rinduku padanya. Ku tumpahkan semua yanh kurasakan. Kucurahkan dengan mengucurkan air mata. Ya Allah, berikan ia kebahagian padanya melebihi kebahagiaan yang pernah kami alami berdua. Tuhan.. terima semua amal kebaikannya, ampuni semua dosanya. Berikan dia tempat terbaik di sisiMu. Aku sungguh menyayanginya. Tak kan pernah terlupakan. Dia akan tetap jadi sahabat, saudara, guru terbaik, dan dia akan menjadi seorang yang terpenting yang kan selalu hidup dalam jiwaku. Tak kan pernah kuhapus semua kenangan kami. Sampaikan salamku padanya Tuhan. Aku sangat merindukannya. Aku menyayanginya. Maaf jika ku sering menyakitimu selama kau hidup. Aku tak mampu membalas kebaikanmu. Aku hanya akan selalu mendoakanmu. Itu yang kini bisa kulakukan. Semoga kita bisa bertemu lagi esok hari..
Malang, 1 November 2010
Mizann.
~ secarik surat untuk irra yang sudah tenang di alamnya~.


Komentar
Posting Komentar